Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga (Kidung Rumeksa Ing Wengi)

image

Sejenak membuka, membaca dan  merenungi sebuah buku karya Achmad Chodjim berjudul Mistik dan Makrifat Sunan kalijaga. Buku yang tebalnya sampai 378 halaman ini memang hanya sedikit mengupas tentang sejarah atau kisah Sunan Kalijaga sendiri. Karena menurut penulis, sudah banyak orang yang menulis sejarah atau kisah Sunan kalijaga. Sedangkan yang disajikan dalam buku ini adalah tentang ajaran dan kearifan Sunan Kalijaga serta ajaran tentang makrifat dan sangkan paran ( asal dan kembalinya manusia) baik berupa doa maupun tembang tembang.

Dari buku ini saya baru tahu bahwa Sunan Kalijaga menyusun beberapa doa yang berupa kidung atau mantra. Diantara doa doa dari Sunan Kalijaga yang memang sudah cukup terkenal yakni kidung “rumeksa ing wengi” atau perlindungan di malam hari. Yang ternyata kidung ini juga dikenal sebagai “mantra wedha” sebagai doa penyembuhan.

Mengenai “mantra” (sebelum ada yang komentar keras soal ini). Mantra adalah seperti layaknya doa (arab) karena Mantra adalah bunyi, suku kata, kata, atau sekumpulan kata-kata yang dianggap mampu “menciptakan perubahan” (misalnya perubahan spiritual). Ya….. mantra adalah doa dan doa adalah mantra, Hanya beda pada pelafalan saja.
Dalam hal ini nabi muhammad pun banyak mengajarkan doa atau mantra pada kita semua. Dari bangun tidur, ke kamar kecil, berpakaian, makan, ke luar rumah, bepergian, bekerja hingga kembali pulang dan tidur.

Lalu mengapa Sunan kalijaga perlu menyusun mantra sendiri, kan sudah ada tuntunan doa dari kanjeng nabi Muhammad. Dalam hal ini penulis buku menjelaskan, bahwa bukankah doa itu akan lebih mudah dihayati dan diyakini bila bahasanya dimengerti. Dan dalam doa yang dipraktikkan secara sungguh sungguh terkandung kerja. Orare est laborare, laborare est orare., “berdoa artinya bekerja, bekerja artinya berdoa” kata ungkapan Barat.

Oke kita lanjut. Didalam bab kandungan kidung rumeksa ing wengi dijelaskan, bahwa apabila kita simak dengan seksama bait pertama kidung tersebut, kandungannya tidak jauh berbeda dengan surat An Naas dan Al Falaq. Intinya adalah perlindungan. Bukan hanya perlindungan dari kejahatan orang, melainkan juga perlindungan dari penyakit. Dalam bait pertama ini pula disebutkan bahwa khasiat doa ini bagaikan air yang memadamkan api. Dan maksud dari doa ini diantaranya memang untuk menghindarkan diri dari bahaya api.

Dalam bait kedua dinyatakan dengan tegas bahwa khasiat atau kesaktian yang dihasilkan dari melafalkan doa ini adalah untuk menolak serangan hama pada sawah dan ladang. Juga menghindarkan diri dari serangan senjata.

Kawan kawan. Didalam buku ini pula disebutkan ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi kemanjuran sebuah doa. Diantaranya alam tak sadar si pendoa, harapan, kecemasan, keyakinan, dan pengalaman. Tentu saja sebuah doa akan terkabul bila kita tidak melanggar asas doa. Misalnya, kita berdoa agar diberi tuhan mobil baru. Dan kita berharap mobil itu akan ada seketika dihadapan kita. Ini namanya MELANGGAR ASAS DOA.

Sebenarnya inti yang saya pahami dari kidung ini adalah mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Oke kawan, sebelum saya melanjutkan membaca dan merenungi kembali buku yang fenomenal ini, saya akan sajikan bait bait kidung Rumeksa ing wengi dan artinya :

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing Lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning wong
Lemah miring myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat lan sagung pra Rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam Utekku Baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku Nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup Pamiyarsaningwang
Dawud Suwaraku mangke
Nabi Ibrahim Nyawaku
Nabi Sleman Kasekten mami
Nabi Yusup Rupeng wang
Edris ing Rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar Getih daging ngumar singgih
Balung Baginda Ngusman

Sungsumingsun Patimah linuwih
Siti Aminah Bayuning Angga
Ayup ing Ususku mangke
Nabi Nuh ing Jejantung
Nabi Yunus ing Otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa, sampun pepak sakatahe para Nabi dadya sarira Tunggal

Terjemahan dalam bahasa indonesia :

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas 
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun 
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat. 
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. 
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman 
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi 
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku. 
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai 
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh 
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi 
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka 
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Sekian. Gus Maksum Unwahas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: